Ironi Pendidikan (MSDM)

Senin, 28 Januari 2013


IRONI PENDIDIKAN

TAK ADA GURU, PENJAGA SEKOLAH PUN JADI
“HUMAN RESOURCE PLANNING NEEDS MORE”



TUGAS AKHIR
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Belajar dan Pembelajaran


Oleh:
Dwi Rahmah Hidayati                                                110131436526

 






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Desember 2012




KASUS


A.      JUDUL KASUS

TAK ADA GURU, PENJAGA SEKOLAH PUN JADI
Tempat            : Kelas Jauh SDN Gobang 4, di Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Rumpin,
                          Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Waktu             : Pukul 08.10 WIB
Rabu, 7 November 2012


B.       KONTEKS KASUS

“Tak Ada Guru, Penjaga Sekolah pun Jadi”, kasus ini menceritakan mengenai ketidakhadiran guru dalam kegiatan pembelajaran untuk beberapa kali, dikarenakan kondisi insfrastruktur menuju sekolah yang buruk dan berbahaya selama musim hujan, sehingga tugas mengajar yang seharusnya dilaksanakan oleh guru, digantikan oleh penjaga sekolah. Kasus ini masuk dalam fungsi pengorganisasian sumber daya manusia dalam pekerjaan, dan sub fungsi mengenai tugas, hak, dan kewajiban. Permasalahan- permasalahan yang ada dapat dirinci sebagai berikut:
a.       Keterbatasan jumlah tenaga kependidikan
Jumlah guru kelas jauh yang hanya berjumlah 2 orang, dan 1 penjaga sekolah. Apabila guru tidak bisa hadir, maka penjaga sekolah yang mengisi kegiatan pembelajaran.
b.      Keterbatasan infrastruktur menuju sekolah
Kondisi infrastruktur menuju sekolah buruk dan berbahaya selama musim hujan, sehingga menyebabkan guru kerap tidak mengajar.
c.       Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan di kelas jauh
Kelas jauh yang merupakan bagian dari SD Gobong 4 yang letaknya terpisah ini memiliki jumlah siswa sebanyak 120 siswa, kelas 1 sampai 6, namun hanya memiliki 2 ruang kelas. Ruang kelas pun seadanya, kaca-kaca jendela pecah, dan salah satu pintu kelas lepas, meja dan kursi reyot dan rusak.
d.      Keterbatasan honor
Honor guru hanya Rp. 500.000/ bulan, itu pun tak selalu dibayarkan tepat waktu.
e.       Ironi Pendidikan
Kondisi kelas jauh menjadi ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan SDM lewat wajib belajar pendidikan 9 tahun. Padahal, jaraknya hanya 60 km dari pusat pemerintahan di Jakarta.

Ada begitu banyak permasalahan di kelas jauh SDN Gobang 4, Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut. Maka, diperlukan banyak solusi dan strategi dalam memecahkannya. Permasalahan yang kompleks, membutuhkan manajerial dan operasional yang kompleks pula. Fokus penulis adalah membahas mengenai tugas guru untuk mengajar yang digantikan oleh petugas sekolah di kelas jauh SDN Gobong 4, Kukuk Sumpung, Desa Gobang, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.


C.      RUMUSAN MASALAH

1.    Apakah fungsi pengorganisasian Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pekerjaan?
2.    Bagaimana tugas seorang guru dan penjaga sekolah?
3.    Bagaimana cara mengatasi permasalahan yang terdapat dalam kasus “Tak Ada Guru, Penjaga Sekolah pun Jadi” ?


D.      ANALISIS SWOT TERHADAP KASUS

1.      Strengths (Kekuatan)
Dalam kasus ini, guru-guru tidak mampu hadir untuk mengajar, sehingga tugas mengajar digantikan oleh penjaga sekolah. Hal ini meskipun tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, namun sangat membantu tetap berlangsungnya kegiatan pembelajaran di kelas jauh. Peserta didik yang berniat untuk belajar setidaknya masih mendapat pelajaran, meskipun tidak bisa berjalan kondusif. Penjaga sekolah yang lulusan SMP setidaknya masih bisa mengendalikan siswa kelas 1 dan 2 tersebut.

2.      Weakness (Kelemahan)
Ketika kegiatan pembelajaran digantikan oleh penjaga sekolah, maka pembelajaran tidak akan berjalan sebagaimana mestinya, karena kompetensi penjaga sekolah berbeda dengan kompetensi seorang guru, terlebih penjaga sekolah tersebut hanya mengenyam pendidikan hingga kelas II SMP. Dalam kasus ini, untuk mengatasi kelemahan yang ada tersebut, maka diperlukan strategi khusus, untuk itu diperlukan Human Resource Planning (Perencanaan SDM) kembali yang lebih efektif dan efeisien, dengan melakukan penambahan jumlah guru di kelas jauh tersebut.

3.      Opportunities (Peluang)
Penjaga sekolah yang menggantikan guru untuk mengajar ketika mereka tidak mampu hadir, menjadi sangat membantu ini tidak bisa begitu saja dipersalahkan, setidaknya peserta didik yang datang ke sekolah masih mendapat perhatian. Apabila guru dan penjaga sekolah masing- masing mempunyai handphone, hal ini sangat membantu. Guru yang tidak dapat hadir, dapat menyampaikan kepada penjaga sekolah pelajaran apa, materi apa, tugas apa, atau pun apa yang harus dilakukan oleh siswa. Sehingga, siswa tidak menerima hal yang tidak terarah dari guru.

4.      Threats (Ancaman)
Ketidakhadiran guru dikarenakan kondisi infrastruktur menuju kelas jauh yang buruk dan berbahaya selama musim hujan. Dengan menempatkan guru di dekat wilayah kelas jauh, atau untuk sementara waktu (selama musim hujan) guru menginap di rumah penduduk sekitar kelas jauh tersebut, maka kemungkinan guru tidak hadir karena akses jalan yang buruk dan berbahaya akan sedikit teratasi. Masalahnya hanya apakah guru tersebut bersedia dan masyarakat sekitar mengijinkan? Sebenarnya sangat dibutuhkan penambahan guru baru, perbaikan akses jalan, penambahan ruang kelas, kantor, dan adanya manajemen tambahan di kelas jauh tersebut, namun dana dan sumber daya manusianya sangat terbatas.

                                                                                                                
E.       KAJIAN TEORI

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) merupakan suatu ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan Sumber Daya Manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan. Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu pengakuan terhadap pentingnya unsur manusia sebagai sumber daya yang cukup potensial dan sangat menentukan dalam suatu organisasi, dan perlu terus dikembangkan sehingga mampu memberikan kontribusi yang maksimal bagi organisasi maupun bagi pengembangan dirinya.


1.        Fungsi Pengorganisasian Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pekerjaan
Menurut Nur (2011), pengorganisasian sumber daya manusia adalah kegiatan untuk megorganisasi semua personil dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasinya, dalam bagan organisasi (organization chart). Organisasi yang baik akan membantu tercapainya tujuan secara efektif.
            Di kelas jauh SD Gobong 4, terlihat bahwa sumber daya manusia, dalam hal ini tenaga kependidikannya sangatlah kurang, maka pengorganisasian SDM nya juga sangatlah kurang. Mulai dari pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasinya menjadi sulit dan tidak sesuai dengan kapasitasnya. Maka terjadilah seorang penjaga sekolah menggantikan guru untuk mengajar.

2.        Tugas Guru dan Penjaga Sekolah
Menurut Raharja (2006), guru sebagai tenaga professional, ahli dalam bidang (akademis) yang ditandai dengan memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan yang berwenang dan terakreditasi oleh pemerintah. Seseorang yang telah memiliki sertifikat mengajar, dinyatakan sebagai ahli dalam bidang akademis tertentu, memiliki hak untu mengajar dalam lembaga atau satua pendidikan. Secara akademis, seorang guru professional ia memiliki keahlian atau kecakapan akademis atau dalam bidang ilmu tertentu; cakap mempersiapkan penyajian materi (pembuatan silabus; program tahunan, program semster) yang akan menjadi acuan penyajian; melaksanakan penyajian materi; melaksanakan evaluasi atas pelaksanaan yang dilakukan; serta mampu memperlakukan siswa secara adil dan secara manusiawi.

Undang -Undang Guru No. 14 Tahun 2005 menyebutkan tentang hak dan kewajiban guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Hak seorang guru dalam tugas keprofesionalan adalah;

a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan;
g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
h. memiliki kebebasan untuk berserikat dan organisasi profesi;
i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
j. memiliki kesempatan untuk berperan mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;dan/atau
k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya (Bab IV Pasal 14, halaman 6)

Dalam kewajibannya seorang guru professional dituntut untuk:

a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;

b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

c. bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi perserta didik dalam pembelajaran;

d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan

e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
Sedagakan tugas penjaga sekolah yang merupakan salah satu tenaga teknis, yaitu membantu kelancaran pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru. Pengangkatan dan pemberian tugas menjadi kewenangan kepala sekolah.
Maka, penjaga sekolah yang menggantikan guru mengajar tersebut tidak dapat dipersalahkan, begitu pula dengan gurunya yang tidak dapat hadir ke sekolah untuk mengajar, dikarenakan akses jalan ke sekolah yang buruk dan berbahaya.


3.        Cara Mengatasi Permasalahan dalam Kasus “Tak Ada Guru, Penjaga Sekolah pun Jadi”

Melihat permasalahan di balik kasus tersebut dilatarbelakangi banyak faktor, seperti kondisi wilayah yang terpencil dengan infrastruktur yang buruk, jumlah guru yang sangat minim, keadaan sarana dan prasarana yang sangat tidak memadai, keterbatasan dana, manajerial dan operasional yang tidak sesuai. Menurut penulis, untuk mengatasi masalah ini diperlukan Human Resource Planning (Perencanaan Sumber Daya Manusia) lagi. Menurut Suharsaputra (2012), Human Resource Planning merupakan perencanaan sumber daya manusia yang melibatkan pemenuhan kebutuhan akan personil pada saat ini dan masa mendatang, dalam konteks ini diperlukan analisis tujuan pekerjaan, syarat-syarat pekerjaan, serta ketersediaan personil.
Melalui perencanaan kembali sumber daya manusia yang disesuaikan dengan kebutuhan dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang ada, seperti kondisi wilayah, karakteristik siswa, dan segala keterbatasan yang ada di kelas jauh, maka personil yang dipilih diharapkan adalah orang-orang yang mampu menghadapi semua tantangan tersebut. Dalam hal ini peran pemerintah dan masyarakat sekitar juga sangat memegang peranan penting.

Human Resources Planning Needs More untuk mengatasi kasus tersebut:
a.      Recruitment
Upaya pemenuhan personil melalui pencarian personil yang sesuai dengan kebutuhan dengan mengacu pada rencana Sumber Daya Manusia yang telah ditentukan. Dalam hal ini program pemerintah seperti SM- 3T (Sarjana Mendidik- di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) sangat diperlukan.

b.      Selection
Kemudian dari pendaftar yang diperoleh dalam rekrutmen, dilakukanlah seleksi. Seleksi dilakukan untuk menentukan personil yang kompeten sesuai dengan persyaratan pekerjaan yang ditetapkan.

c.       Professional Development atau pengembangan profesional
Apabila Personil yang dibutuhkan telah diperoleh, maka langkah Manajemen Sumber Daya Manusia yang amat diperlukan adalah Pengembangan professional yang merupakan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensi personil agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kepentingan organisasi.

d.      Performance Appraisal
Sebagai upaya untuk memahami bagaimana kondisi kinerja personil dalam organisasi yang amat diperlukan dalam menentukan kebijakan kompensasi.

e.       Compensation
Pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada guru sebagai imbalan jasa yang diberikannya harus adil dan layak. Adil diartikan sesuai dengan prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi kebutuhan primernya serta berpedoman pada batas upah minimum pemerintah dan berdasarkan internal dan eksternal konsistensi.



“Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan dan pembatasan untuk kita meraih kemajuan”
(Dwi Rahmah Hidayati, 2012)


DAFTAR RUJUKAN


Lee, Antony. 2012. Tak Ada Guru, Penjaga Sekolah pun Jadi, (Online), (http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/08/09285330/Tak.Ada.Guru.Penjaga.Sekolah.Pun.Jadi), diakses 07 Desember 2012.
Nur, Anan. 2011. Manajemen SDM, (Online), (http://anan-nur.blogspot.com/2011/01/manajemen-sdm.html), diakses 07 Desember 2012.
Raharja, Hidayat. 2006. Guru di antara Tuntutan Profesi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Online), (http://re-searchengines.com/0306hidayat.html), diakses 07 Desember 2012.
Suharsaputra, Uhar. 2012. Manajemen SDM Pendidikan, (Online), (http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/manajemen-sdm-pendidikan/), diakses 07 Desember 2012.

0 komentar:

Poskan Komentar